WartaPoldasuid– Diketahui bahwa penderita TBC Resisten Obat merupakan perkembangan dari TBC biasa, kemudian pada akhirnya sesuai dengan kondisinya berkembang menjadi kebal akan obat tertentu dan beberapa jenis obat lainnya. Fokus utamanya adalah kebal terhadap obat Bakteriosid, Rifampisin, dan Isoniazid. Di Klinik Rutan Kelas 1 Medan saat ini ada 3 orang wbp yang kebal obat dan sedang dalam perawatan/pengobatan.

 

Cara mendiagnosa Pasien kebal obat bisa dengan cara

1. Pasien datang ke klinik dengan keluhan batuk batuk labih dari 2 minggu.

2. Keluhan sesak nafas

3. Adanya demam terutama malam hari.

4. Berat badan menurun.

5. Badan lemas dan tidak ada nafsu makan.

Maka pasien tersebut kita sebut sebagai terduga TB lalu kita akan memeriksakan dahak/sputum untuk melakukan pemeriksaan Mikroskopik yang disebut TCM ( Tes Cepat Molekuler ) ke RS Rujukan.

 

Setelah beberapa hari melalui laporan SITB  akan diperoleh hasil tes secara online. Setelah memperoleh  hasil maka petugas medis Rutan merujuk ke RS rujukan untuk konsul ke spesialis Penyakit Paru dan melakukan tes laboratorium.

Kemudian diberikan therapi MDR. Di Klinik Pratama Rutan 1 Medan pasien MDR diisolasi dan pemberian makan obat oleh PMO ( Pengawas Makan Obat ).

Setiap sebulan sekali dulakukan konsultasi dan pemeriksaan laboratorium di RS rujukan.

 

Hal ini dilakukan dikarenakan bila pasien berhenti atau terputus minum obat TB ( Bukan MDR ) sebelum selesai pengobatan maka akan beresiko :

1. Penyakit TBC tidak sembuh dan beresiko menularkan ke orang lain.

2. Penyakit bertambah parah dan bisa berakibat kematian

3. Bakteri menjadi kebal/resisten terhadap OAT lini pertama.

 

Rutan Satu Medan tetap berkomitmen dan giat dalam pencegahan dan pengobatan TB non MDR dan TB MDR secara rutin melalui skrining tahanan baru dan skrining massal menuju Indonesia Eliminasi TB Paru 2030 dan Indonesis Bebas TB tahun 2050 sebagai program Pemerintah. (usman)