WartaPoldasu.id- Keberadaan sebuah gudang di Sungai Mati yang disinyalir menjadi tempat penampungan serta pengolahan BBM jenis solar di seputaran Kecamatan Medan Labuhan Sungai Mati seperti luput dari pengawasan aparat dinas terkait.

 

 

 

 

Pasalnya, meski kerap diberitakan di sejumlah media online terkait kegiatan yang diduga melanggar Pasal 55 UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, namun pengelola seperti merasa tak bersalah dan tetap melakukan kegiatannya.

Jelas tertuang pada pasal tersebut yang berbunyi, “Barang siapa yang menyalahgunakan BBM Bersubsidi di ancam pidana 6 tahun penjara dan denda 60 Milyar Rupiah”.

Kendati berjarak kurang lebih 500 meter dari Pertamina dan Polsek Medan Labuhan, gudang yang disebut-sebut milik E terus beroperasi tanpa tersentuh hukum.

 

 

 

 

Dari informasi yang dihimpun, untuk memuluskan usahanya,E juga menggunakan jasa seseorang berinisial Gabe yang bertugas mengarahkan truk masuk ke dalam gudang.

Seperti amatan awak media beberapa waktu lalu, Senin (7/5) terlihat truk pengangkut BBM Industri PT Citra Bintang Familindo diduga singgah untuk mengurangi volume sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

 

 

 

Selain BBM dari PT Citra Bintang Familindo, minyak masak asal Peurlak Aceh disebut-sebut masuk ke gudang.

Dari keterangan beberapa sumber yang valid menyebut, BBM yang dibawa truk biru putih PT CBF merupakan orderan dari salah satu pembangkit listrik (PLN) yang berada di Pangkalan Susu.

 

 

Namun, lanjut sumber, diduga adanya permainan antara kedua pihak (gudang dan bagian bongkar di PLN), aksi ini sulit ‘tercium’ pihak berwajib.

Sehingga dipastikan negara akan mengalami kerugian bila hal ini tidak dihentikan.

Menurut sumber, langgengnya aksi “kencing” yang dilakukan PT CBF di gudang jalan Sungai Mati juga tak lepas dari pengawas yang disebut-sebut merupakan oknum berambut cepak yang bertugas di Belawan.

“Tak mungkin aja, para mafia ini berani main kalau gak ada orang yang berpengaruh di belakang mereka, bayangkan bisa mencapai 60 drum perhari yang digelapkan. Dari aksi tersebut, keuntungan yang didapat oleh penggiring juga bervariasi hingga Rp 60 juta perharinya,” kata sumber yang enggan disebut namanya.(usman)

 

 

Editor : N gulo